FESTIVAL NGEDODOL Lestari Budaya di Kampoeng Kita

 Reporter : Dedi Setiawan

FESTIVAL NGEDODOL Lestari Budaya di Kampoeng Kita
Kepala Desa Kertarahayu menghadiri Festival Ngedodol ( 24/04/22).

Sebagai Negara yang memiliki Beragam suku, Indonesia juga memiliki berbagai budaya termasuk saat Menyambut Hari raya Idul Fitri, salah satunya Budaya Ngedodol yang biasa dilakukan Masyarakat Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.

Namun Seiring perkembangan zaman, Budaya tersebut mulai terkikis bahkan mulai terlupakan. Demi melestarikan Budaya Ngedodol, Pemerintah Desa setempat menggelar Festival Ngedodol pada Minggu 24 April 2022. 

Ngedodol adalah Mengolah atau Membuat dodol secara beramai-ramai Menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Menjelang Hajatan. Pada zaman dahulu kegiatan Ngedodol dilakukan demi memupuk Jiwa Gotong Royong , melestarikan budaya silaturahmi dan budaya tolong-menolong antar sesama.

Ada 6 rukun warga (RW) yang memeriahkan Festival Ngedodol yang diselenggarakan Pemerintah Desa Kertarahayu, Setu, Kabupaten Bekasi. 

Kepala Desa Kertarahayu, Rudi Catur Pribadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar untuk melestarikan tradisi masyarakat yang mulai memudar seiring perkembangan zaman. 

"Festival Ngedodol ini biar kita mengenang momen mau Lebaran, pas di Kampoeng Kita, salah satu tepat wisata. Nanti kita buat untuk acara tradisional tempo dulu untuk kami kembalikan," jelas dia saat diwawancarai. 

Dodol yang dibuat warga ada dodol betawi. Rudi mengaku terharu melihat antusiasme warga dari segi kebersamaan dan kekompakan. 

"Terasa lebarannya. Kalau sekarang kita mau dodol, maunya instan, beli. Ini untuk menghidupkan kembali tradisi kita pada zaman dulu," kata dia. 

FESTIVAL NGEDODOL Lestari Budaya di Kampoeng Kita
Pemerintah Desa Kertarahayu membagikan Dodol Betawi hasil olahan Festival Ngedodol.


Ada perbedaan dodol Betawi khas Kertarahayu dibandingkan dodol Betawi lainnya, salah satunya dari segi peralatan memasaknya. 

"Dodol lain wajannya bukan dari tembaga. Nanti bisa menimbulkan rasa dan aroma yang berbeda. Di sini kita pakai alat tradisional semua," terang Rudi. 

"Adukannya dari kayu aren, wajan dari tembaga, dan tungku dari pongkol pisan batu. Dari orang tua zaman dulu mau Lebaran pakai ini. Saya minta jangan dirubah, biar alami seperti dulu. Supaya anak-anak kita tahu juga," sambungnya. 

Durasi pembuatan dodol rata-rata 8 jam, tetapi bisa lebih lama juga tergantung bahan yang digunakan. Hasil dari pembuatan dodol ini akan dibagi-bagikan kepada warga.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kertarahayu, Dedi, menjelaskan Festival Ngedodol merupakan bentuk kelestarian budaya di Desa Kertarahayu. 

"Rencananya kita akan rutin membuat ini jelas momen hari raya Idul Fitri. Karena, era sekarang ini budaya jelang Lebaran ini mulai terkikis zaman," jelas dia. 

Lanjut Dedi, pihaknya berencana menggelar Festival Desa yang tersentralisasi di satu tempat, yaitu Kampoeng Kita. 

"Harapan kita, mudah-mudahan dengan festival dodol ini masyarakat jangan meninggalkan budaya. Dan, tergugah kembali untuk melestarikannya," jelasnya. 

( Bens )