Mengembangkan Ekonomi Syariah dan lembaga filantropi Upaya Ketahanan Pangan

0

“Mengembangkan Ekonomi Syariah dan lembaga filantropi Sebagai Upaya Mewujudkan Ketahanan Pangan”

Penulis: Hanum Fakhri Zaki, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI

Mengembangkan Ekonomi Syariah dan lembaga filantropi Upaya Ketahanan Pangan

Sejak pemerintah mengumumkan bahwa pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia pada bulan Maret 2020 lalu, banyak sekali kebijakan-kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah pusat maupun daerah yang dimaksudkan agar virus ini tidak semakin meluas penyebarannya. Padatnya jumlah penduduk Indonesia, terutama di kota-kota besar dan juga kesadaran masyarakat yang dirasa masih kurang dalam menyikapi pandemi ini menjadi salah satu faktor penyebaran virus ini begitu masif di nusantara. 

Kebijakan pemerintah terkait work form home dan kebijakan lainnya, telah memberikan dampak yang cukup besar pada masyarakat. efek yang ditimbulkan dari pandemi ini tidak hanya mengancam jiwa manusia saja, akan tetapi, banyak sektor yang terkena dampak dari pandemi ini. Salah satunya adalah pada bidang perekonomian.
Selama masa pandemi, kondisi perekonomian di Indonesia terus mengalami penurunan, hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani yang dilansir dari media online media.com. Beliau menyebutkan bahwa pelemahan itu sudah bisa dilihat pada kuartal 1 2020 (Q1) dan diprediksi akan terus mengalami pelemahan pada kuartal setelahnya jika kondisi tidak semakin membaik. Pada bulan juli 2020, kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal II 2020 melemah hingga minus 4,3%. Keterangan tersebut diambil dari pernyataan Sri Mulyani saat melakukan video conference (juni/2020) yang dikutip dari media massa CNBC News. 
Dari beberapa permasalahan-permasalahan diatas, maka kerja sama yang baik antara pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan agar kondisi tidak semakin memburuk. Sektor keuangan syariah pun tidak luput dari dampak pandemi ini. Sri Mulyani yang juga merupakan ketua umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) meminta kepada para pengurus dan anggota IAEI agar bisa ikut berperan aktif untuk memberikan masukan kepada pemerintah, dan ini menjadi bukti bahwa agama islam adalah adalah ajaran yang rahmatan lil ‘alamin.
Berangkat dari sinilah perekonomian Islam mengajarkan adanya ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf). Peran ZIZWAF akan sangat memberikan manfaat bagi masyarakat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, terutama bagi mereka yang berada pada garis kemiskinan. Pemanfaatan wakaf produktif sebagai sarana pengembangan perekonomian juga bisa memberikan peluang baru bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan dan lain sebagainya. 

Dalam webinar yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Widyagama Malang (25/6/2020), dan mengundang para pakar ekonomi seperti akademisi Dwi Condro Triono, Chief Waqaf Officer Rumah Zakat Soleh Hidayat, Ketua Umum Bank Infaq Chridono HT Utomo, serta peneliti senior Bank Indonesia Ascarya, mereka mengatakan bahwasanya ajaran Islam yang berkaitan dengan ekonomi ini tidak hanya menjadi wujud ketaatan antara hamba dengan tuhannya, namun lebih dari itu dapat menghindarkan masyarakat dari kebangkrutan ekonomi atau bahkan bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Mengingat bahwa mayoritas penduduk Indonesia juga beragama Islam, hal itu akan memberikan peluang yang besar dalam pengumpulan ZISWAF guna membantu dan memberdayakan masyarakat.
Kaitanya dengan lembaga filantropi adalah keduanya memiliki kesamaan dalam dalam hal kepedulian sosial kemasyarakatan guna menghimpun sumber daya dari para dermawan yang selanjutnya akan disalurkan kepada masyarakat yang berhak mendapatkan. Kegiatan sosial ini sangat luas cakupannya, seperti contoh sedekah qurban, menolong korban bencana, juga termasuk masyarakat yang terdampak oleh pandemi covid-19 ini. Kebutuhan paling mendasar bagi seorang manusia adalah kebutuhan pangannya, sehingga dalam keadaan seperti ini kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya semakin sulit. 

Peningkatan produksi bahan pangan dan naiknya permintaan bahan pangan seperti beras, tidak selaras dengan kesejahteraan para petani yang mengolahnya. Sehingga ketahanan pangan harus diperhatikan dari lapisan paling dasar yaitu para petaninya. Contoh program yang telah dilakukan lembaga filantropi di Indonesia untuk meningkatkan ketahanan pangan adalah dengan memberikan wakaf berupa pupuk bagi para petani dan juga ditambah dengan pendampingan dan pembinaan sehingga tidak akan mengurangi nilai dari wakaf tersebut, bahkan bisa meningkat, seperti yang telah dilakukan oleh ACT (Aksi Cepat Tanggap) dengan membimbing kurang lebih 800 petani yang tersebar dari Aceh, Sulawesi, hingga ke Pulau Jawa (republika.com/filantropi sejahterakan petani). Maka dari itu peran penting perekonomian syariah dan juga lembaga-lembaga filantropi dapat menjadi solusi ketahanan pangan bagi masyarakat.


Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)