Dariyanto (lim Kim I) Berhasil karena Kebaikan Tuhan

Perjalanan hidup seseorang memang susah untuk ditebak. Mencoba
meninggalkan jejak lama ayahanda di Partai Politik dengan
menekuni bisnis, akhirnya panggilan hati menariknya kembali ke
dunia politik.

http://1.bp.blogspot.com/-MTXRsxdILv0/U3Ruc3VDq_I/AAAAAAAAQ0w/tv-he2bz26s/s1600/01-Dariyanto-S-Kom-Golkar-DPRD-KotaBekasi.jpg

LIM KIM I atau Dariyanto, maju menjadi calon legistatif dari partai Golkar di daerah pemilihan di Kecamatan Bekasi Timur, akhirnya meneguhkan diri menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi dari Partai Golkar tahun 2014-2019. Masa awal menjadi legislator menjadi tantangan besar bagi Dariyanto membuktikan diri sukses melampaui prestasinya di dunia usaha.
Restu Istri lalu AyahandaMengawali karir di dunia politik dengan menjadi pengurus partai di tingkat kelurahan-Pengurus Kelurahan (PL), Daryanto tidak serta merta menempatkan mimpi menjadi wakil
rakyat sebagai tujuan politiknya. Keputusan untuk terjun secara total dipicu ucapan yang dilontarkan Basuki Tjahaya Purnama atau A hok yang sekarang menjadi Gubernur DKI Jakarta, bahwa melalui politik terbuka peluang untuk bisa membantu banyak orang.
Niat untuk maju menjadi calon legislatif, diutarakan pertama kali oleh Dariyanto kepada orang terdekatnya yaitu istrinya, dr. Librianti. Konsekuensi pilihan ini, waktu kerja yang lebih panjang, kewajiban untuk turun ke masyarakat dan sebagainya, hanya mungkin sepanjang
mendapat dukungan penuh dari pendamping hidupnya. Karena baginya dukungan istri sangat
berarti, apalagi setelah terpilih. “Awalnya sih sempat keberatan karena menurutnya untuk apa repot-repot ikut pencalegan. Apalagi secara ekonomi keluarga kami juga sudah bisa hidup secara
berkecukupan. Tapi ketika saya jelaskan bahwa
dengan menjadi anggota dewan nantinya
saya bisa berbuat banyak untuk masyarakat,
akhirnya dia bisa memaklumi dan mendukung
keinginan saya,” jelas Dariyanto. Restu yang utama, selanjutnya adalah dari
orangtuanya. Ayahnya boleh dibilang adalah
orang yang telah menempa dirinya menjadi
pribadi yang tidak dapat abai pada keadaan
sekeliling. Dari ayahnya juga, ia belajar soal
hidup dan sikap peduli. “Sejak kecil saya diajarkan papa untuk belajar mandiri. Meski saat
maju menjadi calon legislatif dia tidak menganjurkan
tapi juga tidak melarang, saya menghargai sikapnya.
Saya tahu begitulah papa saya kalau sudah percaya
dengan keputusan yang diambil anaknya, ya dijalanin
aja. Hanya saja dia berpesan agar saya harus siap
dan kuat dalam menghadapi godaan jika mendapat
kesempatan menjadi anggota dewan,” katanya.
Meski tak mudah, berkat dukungan keluarga,
terutama istri, orangtua dan saudara-saudaranya,
Dariyanto pun berhasil meraih dukungan tertinggi di
daerah pemilihannya dan terpilih menjadi anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi
periode 2014-2019. Walaupun mengaku masih
minim pengalaman, anak ke-2 dari 5 bersaudara
ini kini duduk di Komisi A yang menangani bidang
Hukum, Pendidikan dan Perijinan, dan mulai
membiasakan diri dengan gelar anggota dewan yang
disandangnya.
ayah, Sang patron
Kesuksesan kehidupan Dariyanto kini bukan
perjalanan sehari. Perjalanan itu memetik hikmah
dari perjalanan hidup Lim Tong Let sang ayah
berjuang keluar dari himpitan dan menggapai
kejayaan.
Setelah pernikahannya dengan Sin Lan Moy,
ibunya, Tong Let menanggalkan pekerjaan lama
sebagai kuli potong hewan di sebuah restoran di
kawasan Ancol, Jakarta Utara dan naik peringkat
menjadi juru masak di restoran tersebut. Dariyanto
mengisahkan, ia ikut merasakan perjalanan
perjuangan ayahnya itu, bergulat dengan nasib dan
berjuang menjadi pemenang.
Ayahnya itu kemudian memberanikan diri membuka usaha kaki lima sampai akhirnya bisa
menyewa sebuah kios di lingkungan Pasar Proyek
Pertokoan Bekasi untuk dijadikan restoran dengan
nama “Saudara Kita”. Ibunya tak tinggal diam dan
membantu keuangan keluarganya dengan berjualan
pakaian di tempat yang sama. “Beli barang-barangnya di Tanah Abang lalu di jual di Bekasi
dengan selisih harga lumayan,” kisah Dariyanto.
Masa kecil nya boleh dibilang memprihatinkan,
tapi sama sekali tidak membunuh semangatnya.
Sejak kanak-kanak, ia telah ditulari motivasi untuk
berjuang. Dariyanto yang ketika itu masih anak-anak seringkali datang membantu orangtuanya.
Di restoran tugasnya mencuci piring-piring kotor,
di lapak pakaian dirinya datang hanya untuk
menemani mamanya. “Biasanya saya datang ke
restoran setelah pulang sekolah,” jelas legislator
yang saat diwawancarai Majalah Fokus Bekasi sedang menyiapkan bantuan bagi masyarakat di lingkungan
Bekasi Timur yang terkena banjir.
Dari ayahnya ia tidak cuma belajar menjadi
pejuang yang gigih untuk mampu melewati dan
keluar dari setiap kesulitan hidup, tetapi juga belajar
bergaul dan berbaur. Ayahnya adalah patron hidup
yang gigih, liat namun tetap lembut dan bersahaja
terhadap siapa saja.
Di masa anak-anak itu juga Dariyanto sudah
dibiasakan hidup berbaur dengan kawan-kawannya
yang berbeda suku dan agama. Sebagai anak
yang lahir dari keluarga Tionghoa dan beragama
Budha, di masa itu dirinya tidak pernah mengalami
kesulitan saat bermain dengan kawan sebayanya
yang mayoritas muslim. Bahkan saat pulang sekolah,
dia lebih memilih mengantarkan kawannya lebih
dulu yang arah jalan menuju rumah kawannya itu
sebenarnya berbeda dengan arah jalan ke rumahnya.
“Saya sih senang-senang aja karena yang kepikiran
waktu itu punya alasan supaya bisa main lebih
lama,” katanya mengenang.
Tak Beda tapi Tak Sama
Beruntung Dariyanto tak sendiri melewati masa
sulit kanak-kanak. Ia tumbuh dibarengi pasangannya,
saudara kembarnya. Tidak banyak yang tahu jika
Dariyanto sebenarnya memiliki saudara kembar laki-laki bernama Darwadi (Lim Kim La) yang wajahnya
mirip dengan dirinya. Bahkan saking miripnya,
ketika mereka masih anak-anak orangtuanya
sendiri terkadang sulit untuk membedakan
keduanya. “Paling diperhatikan baju atau potongan
rambutnya,” kata Lim Tong Let, orangtua Dariyanto.
Menurut Tong Let, karena kembar sebenarnya
mereka selalu minta disatukan saat sekolah tapi
pernah juga ketika SMA sempat terpisah, begitu
kuliah akhirnya bersatu lagi.
Hal menarik lainnya, kalau biasanya bayi-bayi
lain berada dalam kandungan ibunya tidak lebih dari
9 bulan 10 hari. Tapi saudara kembar ini melebihi
batas normal tadi, mereka betah di kandungan
ibunya hingga 12 bulan. “Disebutnya bunting kebo,
makanya waktu mau melahirkan, mama saya dibawa
ke rumah sakit di Jatinegara karena dulu di Bekasi
jarang ada yang melahirkan bayi kembar,” jelas
Dariyanto sambil tertawa.
Menjadi anak kembar menurut Dariyanto yang
lahirnya lebih dulu dari Darwadi, ada enak dan tidak
enaknya. Enak karena ketika kecil selalu diberikan
sesuatu yang sama, apakah itu pakaian, mainan
atau pun lainnya. Tidak enaknya, jika ada hal yang
berkaitan dengan psikologis maupun kesehatan,
biasanya sebagai saudara kembar mereka bisa
merasakan hal yang sama. Solusinya, jika ada kegiatan
atau aktivitas yang mengharuskan kehadiran salah
satu dari mereka, biasanya dulu ada yang rela menjadi
penggantinya. “Tapi untuk urusan yang ringan-ringan
aja,” kata Dariyanto.
Karena Kebaikan Tuhan
Menuruni darah pengusaha, terjun ke bisnis saat
lepas dari pendidikan sepertinya adalah hal yang
niscaya bagi lelaki berparas ganteng ini. Akan tetapi,
memilih berkecimpung di bisnis properti, sebenarnya
tidak direncanakan.
Berawal dari sebuah kerjasama yang dilakukan
keluarganya yang memiliki sebidang tanah dengan
rekan bisnis ayahnya yang bergerak di bidang properti.
Sayangnya kerjasama tersebut tidak berjalan seperti
yang diharapkan. Sebagai pemula di bisnis ini, ia
menemukan kenyataan rekan bisnisnya ini ternyata
tidak punya legalitas yang memadai..
Kadung terjun, Dariyanto memutuskan
meneruskan berenang memecah ombak, meski itu
berarti harus kembali lagi ke titik nol perjalanan.
Boleh dibilang ini titik awal kerajaan bisnis
properti keluarganya. “Setelah keluarga sepakat
untuk mengambil-alih dan melanjutkannya, kami
kebingungan dari mana harus memulainya, apalagi di
tahun 2008-2009 pihak bank pada waktu itu sangat
sulit memberikan pinjaman,” kisahnya mengenang.
Berbekal kesepakatan dan keberanian, ia dan
keluarga mulai bertanya ke sana-sini. Titik terang
muncul dengan kehadiran seorang rekan ayahnya
yang berkenan mengajarkan keluarga Tong Let
mengajarkan bagaimana memulai usaha di bidang
properti. Sejak itu, kakak beradik berbagi tugas. “Saya
di bagian teknis, kakak saya mengurusi perijinan
dan hubungan dengan bank, adik saya di bagian
administrasi, marketing dan lainnya,” jelasnya.
Berkat kegigihan bersama akhirnya usaha properti
itu pun bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan,
bahkan luas tanah yang semula sekitar 1,7 hektar
sekarang bertambah menjadi kurang lebih 6 hektar
untuk membangun perumahan bagi pensiunan
dan para prajurit. “Keberhasilan itu bukan karena
kehebatan kami tapi karena kebaikan Tuhan,” kata
Dariyanto.
Untuk mencapai itu mereka memang harus
merelakan tiga buah mobil milik keluarga (fuso, sedan
dan coltdiesel) terlego. Tapi, buahnya cukup manis,
bisnis properti awal di wilayah Bojongmenteng-Bantargebang bisa berjalan sukses mengikuti
aturan yang ada. “Legalitas usahanya jelas dan bisa
memberikan kenyamanan bagi konsumen,” katanya.
Kini, bisnis Dariyanto dan keluarga Tong Let boleh dibilang mulai menggurita di Bekasi dan sekitarnya.
Tercatat paling tidak bebrapa jenis bisnis mereka
kuasai diantaranya produksi air mineral dan supplier
kertas. Setelah properti perumahan, Dariyanto kini
juga merambah dunia pendidikan dengan mendirikan
lembaga pendidikan seperti Sekolah Global Persada
Mandiri.
Meletakan Jejak Baru
Menikahi dokter Librianti sang pujaan hati, berada
di puncak kejayaan bisnis memang bukan langkah
akhir seorang Dariyanto. Sepanjang hidupnya, ia
menyaksikan ayahnya sebagai sosok yang menjadi
suri tauladan keluarga besar, tempat mengadu banyak
orang dan aktif sebagai pendukung partai politik besar
yaitu Golkar sejak lama.
Meski tidak masuk dalam struktural partai,
pengaruh Tong Let sebagai simpatisan yang hebat bagi
partai Golkar tidak disangkal. Orang lama Golkar di
Bekasi, mengakui kapasitas perannya sebagai mana
diakui Abdul Manan dan Paray Sahid. Pengaruh Tong
Let sebagai orng yang dituakan di keluarga dan di
lingkungan Wihara juga diakui adik Tong Let, Lim Cun
Lam.
Langkah Dariyanto memasuki politik, seolah
memastikan jejak yang ditinggalkan sang ayah diikuti
anaknya itu. Dan Dariyanto mulai meletakkan jejak
baru, menjadi legislator.
Sebagai legislator, Dariyanto menyadari dengan
posisinya sekarang dia bisa berbuat banyak untuk
menjembatani kepentingan masyarakat. “Hanya
saja ada hal yang juga harus diketahui masyarakat,
meskipun anggota dewan memiliki fungsi sebagai
penyusun anggaran, melakukan pengawasan dan
membuat peraturan perundang-undangan. Tetapi
semua itu tidak bisa semaunya diterapkan karena ada
aturan yang mengaturnya,” jelasnya.
Tidak mudah dipahami banyak orang, menurut
lelaki yang sedang menyelesaikan Strata duanya
untuk Master Pendidikan itu bahwa kesalahan
birokrat yang ditemuinya tidak mungkin langsung
diberi tindakan. “Butuh waktu menjelaskan kepada
masyarakat perbedaan signifikan peran legislatif dan
eksekutif,” ujarnya.
Ia mencotohkan, saat inspeksi dirinya menemukan
birokrat yang melakukan pelanggaran berat dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Masyarakat memintanya untuk menindak langsung.
“Hak pengawasan tidak secara otomatis bisa
membuat saya memberhentikan oknum itu. Yang dilakukannya tentu menyampaikan teguran melalui
jalur yang ada di birokrasi, apakah lewat Badan
Kepegawaian Daerah (BKD) maupun Walikota sebagai
pucuk pimpinan untuk tingkat Kota,” paparnya.
Meski begitu, ia berkeyakinan dengan berjalannya
waktu masyarakat juga kian pandai memilah dan
memahami hak dan kewajiban anggota Dewan
seperti dirinya. “Optimalisasi peran pengawasan
dengan mekanisme yang sesuai, kemampuan
membuat peraturan yang baik dan tidak bertentangan
dengan peraturan yang lebih tinggi dan sebagainya,”
jelasnya lagi, “Makanya saya harus benar-benar
memperhatikan perkembangan dan mau terus
belajar,” pungkasnya bersemangat.
Di Mata Mereka
Sosok Dariyanto memang meninggalkan kesan
yang kuat bagi konstituennya. Semua bukan hal yang
mengejutkan bagi ayahnya, Lim Tong Let. Tong Let
melihat anak keduanya ini memang mempunya tekad
yang kuat dalam mewujudkan sebuah keinginan. “Jika
punya keinginan biasanya dia akan terus berusaha
untuk diwujudkan,” katanya.
Sebagai orangtua tentu dirinya bahagia dengan
apa yang sudah dicapai anak-anaknya. Dan berharap
Dariyanto menjadi anak baik yang tetap menjadi
kebanggaan keluarga dan menjadi contoh bagi yang
lainnya.
Tong Let sendiri tidak pernah membatasi
kiprah anaknya. Dari segi bisnis, ia bahkan sudah
membantu mempersiapkan landasan bagi anaknya
itu dan mempersiapkan mental anaknya itu menjadi
pengusaha. Jauh sebelum Dariyanto memilih menjadi
wakil rakyat, Tong Let sudah membangun sebuah
pabrik di Solo untuk dijalankan Dariyanto. Lain dari
itu, sempat diajarkannya juga menjadi supplier kertas
di salah satu pabrik di daerah Cibitung-Kabupaten
Bekasi.
Ia tidak terlalu terkejut akan pilihan anaknya
memasuki kancah politik meski tidak terlalu
memikirkan itu sebelumnya. Tetapi ketika anaknya
memilih untuk terjun ke situ, sebagai orang tua ia
memaklumi, memberikan restu dan memberikan
dukungan sebesar-besarnya.
Lain lagi yang disampaikan Lim Cun Lam, adik
bungsu Tong Let, tante bagi Dariyanto. Perempuan
manis yang ikut membantu Lan Moy ibunda Dariyanto
di kantin miliknya di Sekolah Global Persada Mandiri.
Cun Lam menilai, terjunnya Dariyanto ini ada dalam
harapan ayahnya.
Berbeda rentang usia tak jauh dari keponakannya,
Dariyanto, membuat Cun Lam cukup dekat di masa
kanak-kanak dan remaja. Baginya, saat paling
berkesan yang dialaminya bersama Dariyanto adalah
saat remaja. “Setiap minggu, kami sering berkumpul
di rumah orang tua kami, kakeknya Dariyanto.
Biasanya yang usulin dan bikin acara ya ayahnya Kim I
(Dariyanto), biarin cuma makan sayur asem tapi yang
penting kumpul,” kenang Cun Lam.
Di mata Cun Lam, apa yang dijalani Dariyanto saat
ini adalah perwujudan sikap Tong Let yang sangat
bersahaja dan sangat senang membantu orang. “Sejak
dulu, ayahnya Kim I itu selalu jadi tempat bertanya
banyak orang. Di Wihara, dulu malah dia pernah
diangkat menjadi Locu,” tuturnya.
Pernah suatu ketika, Cun Lam mengaku bahwa
ayah Dariyanto ini berharap ada satu anaknya yang
berkiprah di pemerintahan atau anggota Dewan.
Jadi, menurut perempuan yang aktif di Wihara
ini, keputusan Dariyanto menjadi anggota Dewan
memenuhi harapan ayahnya, meski tidak pernah
disampaikan atau diarahkan secara langsung. Semua
berjalan seperti mengikuti takdirnya. “Dari semua
anak kakak saya, sepertinya memang Kim I yang
paling pas memilih untuk mengabdi di Dewan.”
Hal senada diamini Nopiyanto, adik paling
bungsu di keluarga ketika diminta pendapat tentang
kakaknya. Menurutnya, Dariyanto merupakan figur
kakak yang memiliki sikap tegas, dan ketegasan itu
dibutuhkan dalam posisinya di Dewan kali ini. Caranya
menyampaikan sesuatu kepada orang lain memiliki
kesan mendidik. “Hampir sama dengan semua kakak-kakak saya,” kata anak bontot ini.
Dari luar keluarga, H. Abdul Manan, sesepuh Partai
Golkar yang kini menjadi Ketua Dewan Pertimbangan
Partai Golkar di Bekasi, mengaku tidak telalu mengenal dekat Dariyanto, tapi cukup mendengar
kualitas Dariyanto mampu merpresentasikan Golkar.
Abdul Manan menaruh harapan agar Dariyanto
sebagai kader partai yang sudah duduk menjadi
anggota Dewan, harus bisa melaksanakan tugas
sebaik-baiknya dalam upaya membangun Bekasi
menjadi lebih baik. Ia menekankan juga, agar kader
muda Golkar ini bisa menghindari perbuatan tercela
agar tidak menjatuhkan martabat pribadi dan partai
yang mengusungnya.
Di luar kapabilitsnya sebagai pribadi, sesepuh
ini menyiratkan perlunya selalu koordinasi dengan
semua komponen yang ada, baik di lembaga maupun
di masyarakat. “Pesan saya jika ada persoalan yang
dianggap berat sebaiknya dikomunikasikan dengan
partai,” kata purnawirawan TNI ini.
Dariyanto sendiri menilai, tanpa dukungan
mereka. dirinya bukan siapa-siapa. Karena itu
tugasnya sekarang membuktikan keinginan dan
harapan bukan saja dari lingkungan keluarga tapi
juga masyarakat yang menaruh kepercayaan kepada
dirinya. Dengan kata lain, sebagai kader partai dia
punya agenda untuk mensupportlangkah pemerintah
yang baik tetapi jika tidak dia akan mengkritisinya.

Profil: dariyanto, s.kom (Lim kim i)
Anggota     DPRD:     Komisi     A,
(Hukum,    Pendidikan    dan    Perizinan)

T.T.L:    Jakarta,    3    Mei    1975
PeNdidikaN
-    SDN,    Bekasi    Jaya
-    SMPN    I    Cibitung
-    SMAN    4    ijazah    SMAN    I    Bekasi
-    Program    S1,    Bina    Nusantara    (1993-1998)
-    Program    S2,    Master    Pendidikan    (sekarang
agama    :         Budha
isTri   :    dr.    Librianti
OraNg Tua :
Ayah    :    Lim    Tong    Let
Ibu    :    Sin    Lan    Damoy
saudara :
-    Darwadi    S.Kom    atau    Lim    Kim    La    (kakak)
-    Andy,    S.Kom    (adik)
-    Hermansyah,    S.E    (adik)
-    Nopiyanto,    S.Farm,    Apt    (adik)
PeNgaLamaNBekerja :
-    PT.    Mulia    Glass
-    PT.    Sosro
-    Direktur    Teknik    di    Perusahaan    Properti
-    Ketua    Yayasan    Global    Persada    Mandiri