Olah RagaCermin Perilaku Sosial Bangsa

Perilaku Olah RagaCermin PerilakuSosial Bangsa

http://1.bp.blogspot.com/_0tsiVSxMQws/TQJptj-6shI/AAAAAAAABqU/oH47MTK49Yk/s1600/olahraga-indonesia-vs-thailand-04.jpg

Dr. Bagus Takwin, M.Hum

http://staff.ui.ac.id/system/files/styles/ui_foto_150/private/image/bagus-t/foto/foto-1649836817.jpg?itok=BvYTriV7BerBInCanG dengan Dr. Bagus Takwin,
M.Hum. tentang pembinaan atlet dan maraknya
cara beli atlet untuk prestise daerah seolah
membuka selubung kerusakan bangsa. Dosen
yang juga penulis buku ini mengingatkan bahwa
fenomena ini adalah lingkaran setan yang sudah
membelit. Putaran uang dari tingkat paling awal
pembibitan hingga beli prestasi dan pengaturan
angka sudah seperti penyakit yang menahun dan
sulit diobati.
“Hal mendasar dalam memandang hal ini
adalah bahwa bangsa ini tidak memilki karakter
yang baik dalam menghormati keadilan,” katanya.
Keadilan dapat hadir dan dipersepsikan sebagai

keadilan oleh masyarakat sepanjang prosedur,
penghargaan (reward) dan hukuman (punishment)
konsisten dalam persepsi dan kenyataan. Bilamana
keadilan prosedur ini dilanggar, maka persepsi
tentang keadilan pun akan berubah.
Lelaki yang biasa dipanggil Aten ini
menambahkan bahwa cara pandang terhadap
konsep keadilan ini akhirnya akan membentuk
karakter pembangunan bangsa. Pada awalnya,
paling tidak akan muncul ketidakpercayaan
terhadap sistem dan prosedur. Bila ini berlangsung
panjang dan terus menerus, akhirnya terbentuklah
persepsi baru terhadap prosedur dan sisitem, yaitu
sistem yang dilanggar tadi. Dan selanjutnya, sistem
dan prosedur inilah yang akan menjadi persepsi
baru terhadap keadilan.
“Rasa tidak percaya yang timbul dari
terlanggarnya keadilan prosedur, akan tumbuh
menjadi ketidaksukaan dan rasa tidak bangga,”
katanya. Dalam konteks olahraga, prosedur
adil yang dipersepsikan atlet adalah kompetisi
berjenjang yang harus dilewati untuk mencapai
prestasi tertentu ternyata berubah karena
intervensi uang. “Misalnya, atlet yang sudah
berlatih dan bertanding di tingkat kota. Secara
normative akan berharap prestasinya akan
membawanya ke provinsi. Ternyata karena ada
atlet kota lain yang secara tiba-tiba dipasang
menggantikannya untuk ajang Provinsi,” katanya.
“Kejadian semacam ini melanggar keadilan
prosedur. Pada akhirnya, atlet ini akan tidak
percaya pada pembina dan kehilangan kecintaan
pada daerahnya.”
Bagus melanjutkan bahwa pada tahap
berikutnya atlet ini akan belajar tidak berdaya
(learned helpless). Kondisi ini, menurutnya,
adalah kondisi yang lemah dan tak berdaya. Pada
hakikatnya, menurut Bagus, semua orang belajar
untuk berdaya. Mereka yang sudah pada titik tidak
berdaya atau belajar tidak berdaya, kehilangan motivasi untuk bangkit dan menjadi berdaya.
“Sayangnya, jika tidak segera diperbaiki, maka
akan tumbuh motif baru yang menyesuaikan
dengan persepsinya yang baru. Dalam kasus ini
ya uang. Mereka yang dikalahkan dengan uang
akan cepat atau lambat akan menjadi pemain
bayaran yang semula mengalahkan persepsinya
itu,” katanya. “Paling mudah membayangkan posisi
tidak berdaya ini seperti orang yang sedang jatuh
cinta,” katanya dengan nada canda.
Dosen mata kuliah Psikologi Kepribadian,
Psikologi Lanjutan dan Filsafat Ilmu di Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia ini mengatakan
bahwa mereka yang menggandrungi salah satu
cabang olahraga dan terjun jadi atlet adalah
orang yang jatuh cinta. Ia akan menghabiskan
banyak waktu, tenaga dan pikiran demi yang
dicintainya ini. Investasi perasaan yang luar biasa
besar dengan harapan yang besar pula. Sikap
yang dibangun dari persepsi atas sang pacar inilah
yang menjadi motivator super. “Maka ketika ia (imported optimism) yang hanya bisa efektif
apabila kekecewaan atas terlanggarnya keadilan
prosedur tidak berulang. Akan tetapi bila aktivitas
atlet bayaran dalam konteks ini tetap berlanjut
maka imported optimism ini sama sekali tidak
berguna.
“Perlu dicatat bahwa berbeda dengan aktivitas
atau profesi lainnya, usia produktif atau prestasi
atlet itu terbatas,” kata Bagus. “Kegagalan
membina karakter kompetitif yang sehat,
penghormatan pada keadilan prosedur, kepastian
akan ganjaran atau rewarddan hukuman atau
punishmentakan mempengaruhi perkembangan
jiwa atlet tersebut.”
Tags