Mengenal Terapi Hiperbarik

Istilah Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) atau Terapi Hiperbarik di
Indonesia memang belum begitu populer, hanya mungkin baru segelintir
orang yang mengenalnya, padahal pemanfaatan HBOT sudah dilakukan
sejak 1960 oleh Lakesla yang bekerja sama dengan RS Angkatan Laut
Dr. Ramelan, Surabaya.

http://3.bp.blogspot.com/-dmq16DP7114/T07BOUZjU7I/AAAAAAAAAFk/M0Qnwq8-VIY/s1600/HBOphoto-1024x682.jpg

Hingga saat ini fasilitas tersebut masih merupakan yang terbesar di Indonesia.
Sementara di tempat lain meski telah tersedia fasilitas terapi oksigen hiperbarik
sayangnya sampai saat ini baru Rumah Sakit besar yang memiliki fasilitas tadi,
antara lain RS Betshaida Tangerang-Banten.
Dasar dari terapi hiperbarik sedikit banyak mengandung prinsip fisika. Teori Toricelli
ini yang mendasari terapi HBOT,dimana digunakan untuk menentukan tekanan
udara 1 atm adalah 760 mmHg. Kandungan komposisi unsur-unsur udara yang
terkandung di alam ini mengandung Nitrogen (N2) 78 % dan Oksigen (O2) 21%. Pada terapi HBOT menggunakan unsur media napas
Oksigen (O2) 100%.Terapi HBOT ini juga berdasarkan teori
fisika dasar dari hukum-hukum Dalton, Boyle, Charles
dan Henry. Hiperbarik oksigen terapi adalah Terapi medis
yang telah terbukti secara klinis dengan cara menghirup
oksigen murni di dalam suatu ruangan bertekanan tinggi.
Sedangkan prinsip yang dianut secara fisiologis
adalah bahwa tidak adanya O2 pada tingkat seluler
akan menyebabkan gangguan kehidupan pada semua
organisme. Oksigen yang berada di sekeliling tubuh
manusia masuk ke dalam tubuh melalui cara pertukaran
gas. Fase-fase respirasi dari pertukaran gas terdiri dari
fase ventilasi, transportasi, utilisasi dan diffusi. Dengan
kondisi tekanan oksigen yang tinggi, diharapkan matriks
seluler yang menopang kehidupan suatu organisme
mendapatkan kondisi yang optimal.
Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) adalah terapi medis
dimana pasien dalam suatu ruangan menghirup oksigen
100% pada tekanan barometer tinggi (hyperbaric
chamber). Kondisi lingkungan dalam HBOT bertekanan
udara yang lebih besar dibandingkan dengan tekanan di
dalam jaringan tubuh (1 ATA). Keadaan ini dapat dialami
oleh seseorang pada waktu menyelam atau di dalam
ruang udara yang bertekanan tinggi (RUBT) baik yang
dirancang untuk kasus penyelaman maupun pengobatan
penyakit klinis.
Efek yang didapatkan dari terapi HBOT ada dua yang
pertama efek mekanik dan kedua efek fisiologis. Efek
fisiologis dapat dijelaskan melalui mekanisme oksigen
yang terlarut plasma. Pengangkutan oksigen ke jaringan Pengangkutan oksigen ke jaringan
meningkat seiring dengan peningkatan oksigen terlarut
dalam plasma. Efek mekanik meningkatnya tekanan
lingkungan atau ambient yang memberikan manfaat
penurunan volume gelembung gas atau udara seperti
pada terapi penderita dekompresi akibat kecelakaan
kerja penyelaman dan gas emboli yang terjadi pada
beberapa tindakan medis rumah sakit. Efek peningkatan
tekanan parsial oksigen dalam darah dan jaringan yang
memberikan manfaat terapeutik: bakteriostatik pada
infeksi kuman anaerob, detoksikasi pada keracunan
karbon monoksida, sianida dan hidrogensulfida,
reoksigenasi pada kasus iskemia akut, crush injury,
compartment syndrome maupun kasus iskemia kronis,
luka yang tidak sembuh, nekrosis radiasi, skin graft
preparation dan luka bakar.